Tue. Apr 23rd, 2024
Cara Menikmati Radio Pada Masa Dulu Hingga Sekarang

Cara Menikmati Radio Pada Masa Dulu Hingga Sekarang

Cara Menikmati Radio Pada Masa Dulu Hingga Sekarang – Durasi mendengarkan radio saat ini lebih sering dibandingkan menonton acara televisi. Saya hanya menyalakan televisi jika ada acara seperti talkshow inspiratif, standup, sedikit berita, atau saat ada MotoGP. Selain televisi di saluran lokal yang menurut saya kualitasnya hanya 5% dan netral, menonton televisi juga membutuhkan waktu untuk melongo di layar.

Dulu waktu SMP sampai SMA, saya sering mendengarkan radio saat di kamar, karena televisi sudah dikudeta untuk menonton sinetron. Radio cukup enak untuk sekedar didengar Agar kita bisa melakukan hal lain. Kita hanya perlu memaka indera pendengaran dan sedikit mengasahnya ketika ada sesuatu yang menarik untuk dicerna.

Cara Menikmati Radio Pada Masa Dulu Hingga Sekarang

Ada beberapa hal yang aku rasakan saat menjadi radioholic saat masih memakai logo OSIS di dada kiriku. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama saat menjadi penggemar radio dari dulu hingga sekarang?

1. Lagu yang diputar selalu ditunggu-tunggu

Radio nyaris menjadi salah satu sumber lagu-lagu baru di masa lalu. Tidak ada yang julukannya internet via download mp3 gratis, tidak ada acara alay di televisi. Jika Anda mempunyai dana atau memang penggemar beratnya, Anda pasti akan mencoba membeli album penyanyi tersebut. Makanya lagu jaman dulu bertahan lebih lama kalau lagi hits, karena liriknya yang susah dihafal, kadang sampai dicatat manual di buku. Kalau lancip, direkam sendiri, yang kadang terekam suara penyiar bahkan sampai ke iklan.

2. Mendapatkan salam sangat mengasyikkan

Di semua jadwal radio, hanya ada 3 bagian di setiap sesinya;

Kirim salam dan Permintaan Lagu
Lagu yang diputar
Iklan
Saat beriklan tentunya kita akan selalu menunggu pihak yang mengirimkan salam dan lagu yang diputar. Mengubah saluran secara analog pada penyetelan radio tidaklah mudah. Sekali mendapat sapaan meski hanya sekilas dan tidak diulang, biasanya akan mengundang senyuman. Ucapan salam yang disampaikan memang selalu menggoda bahkan menggoda kita, namun menjadi hal yang seru untuk ditunggu di setiap acara.

3. Kartu Perhatian menjadi idola

Lupakan apa itu SMS, BBM, WhatsApp, Line, Twitter dan lain-lain. Dulu, hanya ada 2 cara untuk menyalurkan aspirasi kita melalui radio; melalui telepon rumah atau melalui Kartu Perhatian. Telepon kabel menjadi barang mahal pada masa itu, sehingga dulu wartel (warung telepon) sering didesain hanya sekedar mengirim salam ke radio dengan tarif lokal per 3 menit. Kartu perhatian seringkali merupakan hal yang menyenangkan, karena kita harus datang ke stasiun radio untuk menulis dan menyisipkan ke dalam acara yang akan membacakan kartu perhatian tersebut. Orang-orang di stasiun radio adalah orang-orang yang pandai berbicara dan menarik.

4. Kuis unik

Dalam kurun waktu beberapa bulan selalu ada kuis-kuis baru yang unik dan menyenangkan. Biasanya kuis ini merupakan hasil copy paste dari radio lain, namun tetap saja di daerah setempat menjadi sangat seru untuk memperebutkan hadiah.

5. Ada penyiar yang jadi idola

Setiap stasiun penyiaran mempunyai suara yang khas dengan gaya siarannya yang unik. Dari sederet penyiar biasanya ada yang diidolakan karena karakternya saat tayang. Biasanya ketika suatu acara yang biasa dibawakan oleh penyiar idola tiba-tiba penyiarnya tidak tayang maka biasanya akan terasa aneh dan mungkin mood mendengarkan radio menjadi berkurang. Anehnya ketika mengunjungi stasiun radio Anda akan merasa  menduga  dari suaranya apakah ada sosok bersuara di dalam ruangan tersebut. Ada rasa gembira ketika kita bisa mengetahui sosok asli yang suaranya tidak asing lagi di ruang dengar kita saat berada di depan radio.

6. Drama radio pada masa itu sangat menarik untuk diikuti

Dulu ada drama radio baik drama kolosal maupun drama remaja. Salah satu kelebihan drama radio adalah suara latar dan improvisasi pengisi suara yang memang sangat cocok. Kita seolah-olah terbawa imajinasi terhadap situasi dan kondisi yang diciptakan oleh komposisi suara yang muncul dalam lakon tersebut.

7. Acara offline di kantor stasiun radio biasanya selalu penuh peserta

Terkadang ada kegiatan off-air yang diadakan oleh stasiun radio, baik sekedar seminar kecil maupun workshop kecil-kecilan. Dulu, mencari sumber informasi masih sangat sulit, sehingga ketika ada acara gratis biasanya pesertanya selalu melebihi kuota ruangan sederhana yang disiapkan untuk kegiatan tersebut.

8. AM dan FM menjadi persaingan sejati

Bagi Anda yang biasa memainkan radio analog pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah saluran AM dan FM. AM biasanya untuk radio lokal yang jangkauannya sekitar satu kabupaten, sedangkan FM lebih luas yang bisa menjangkau luar kabupaten. Radio AM biasanya memiliki saluran frekuensi yang lebih panjang, sehingga putaran tuner tidak harus tepat untuk mendapatkan suara yang tepat. FM mempunyai jangkauan yang luas, namun saluran frekuensinya biasanya lebih presisi, apalagi jika antena yang digunakan masih antena dalam ruangan, diperlukan antena tambahan untuk meningkatkan penangkapan sinyal FM.

Saat ini hampir semua radio sudah beralih ke saluran FM, dengan tujuan jangkauan lebih luas dan jernih dengan kualitas stereo. Media digital seperti radio internet juga semakin memperpendek jarak antara pemancar dan penerima.

9. Radio hanya menggunakan perangkat Radio saja, tidak menggunakan ponsel khususnya streaming

Radio merupakan salah satu perangkat yang memang berukuran besar dan tidak bisa dimasukkan ke dalam saku. Biasanya terletak antara pemutar kaset analog dan perangkat radio. Terdapat meja atau sudut khusus untuk meletakkan radio di dalam ruangan. Ketidakpraktisan ini ada kalanya membuat bersantai – santai  atau menyelesaikan tugas sekolah di ruangan yang terdapat radio akan menjadi lebih seru dan santai dengan jajan.

10. Perlu antena penguat sinyal radio

Dengan antena bawaan perangkat radio yang bisa direntangkan, biasanya saat menangkap frekuensi FM akan kurang jernih. Perlu antena tambahan yang akan lebih baik jika ditempatkan diluar ruangan. Saya bahkan membeli perangkat antena kompak yang berisi kumparan tembaga dan magnet cahaya serta beberapa transistor, namun merasakan peningkatan yang sangat besar pada kualitas sinyal yang diterima meskipun hanya ditempatkan di dalam ruangan.

11. Terkena radio liar memang menyebalkan

Istilah di tempat saya adalah “brik-brikan”, sebuah radio ilegal yang biasanya memiliki frekuensi acak satu arah untuk komunikasi acak antar pengguna. Biasanya itu adalah tes atau sengaja untuk mengganggu pancaran sinyal stasiun radio.

Untungnya, kini ada peraturan dan sanksi tegas terhadap radio ilegal tersebut.

By admin